Memelihara Perdamaian di Papua Melalui Nilai Kearifan Lokal

papua-201501031155131

Sumber Gambar:  wartabuana

Papua, merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Pulau Greendland di Denmark. Luas wilayah Papua lebih dari tiga kali luas pulau Jawa, dengan populasi penduduknya hanya sekitar 2,8 juta jiwa. Terletak di wilayah paling Timur negara Indonesia.  Luasnya wilayah, serta keadaan geografis menyebabkan penduduk Papua tersebar di beberapa daerah. Penyebaran ini pula yang menjadikan Papua terdiri dari beberapa suku yang memiliki keragaman kultural yang berbeda antara satu dengan lainnya. Selain keragaman suku, Papua juga memiliki beragam agama dan kepercayaan. Sangat disayangkan jika keragaman ini dijadikan alasan atas perluasan konflik sebagaimana yang terjadi saat ini.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi pemicu perselisihan atau konflik di Papua. Diantaranya adalah: permasalahan sosial yang terjadi antara penduduk asli dengan pendatang. Keadilan atas tuntutan hak-hak suku berupa tanah Ulayat, adanya pelanggaran HAM, serta masalah lainnya. Tak dapat terelakkan, konflikpun dapat terjadi antara sesama masyarakat Papua, masyarakat Papua dengan penduduk pendatang, masyarakat Papua dengan pemerintah atau militer, atau dengan pihak-pihak lainnya.

Banyaknya gejolak yang terjadi di masyarakat, terutama yang mengandung unsur kekerasan menjadi latar belakang munculnya ideology Papua Merdeka. Padahal konflik yang muncul tidak semuanya murni berasal dari konflik masyarakat Papua saja, tetapi bisa jadi hadirnya pihak-pihak lain yang turut andil sehingga konflik menjadi semakin meluas. Contoh, konflik yang terjadi antara suku Dani dan Damal pada Juli – September 2006. Konflik ini tak lagi hanya sebatas masalah tuntutan atas kematian salah satu anak dari suku tersebut yang diduga dibunuh oleh suku lainnya. Tetapi konflik sudah meluas ke semua aspek, yaitu sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Meski telah dilakukan berbagai pendekatan penyelesaian konflik, baik pendekatan secara kuasa atau HAM tapi nyatanya konflik di Papua tak kunjung berakhir. Penyelesaian konflik yang telah dilakukan belum membuahkan hasil yang maksimal, baik melalui dialog antar suku, maupun dengan pemerintah. Padahal jika melihat kultural yang dimiliki, sebenarnya Papua sendiri telah memiliki kompetensi dalam upaya memelihara perdamaian.

Kearifan lokal yang mereka miliki adalah sebuah kekayaan mental yang secara teroritis mampu mengelola setiap perbedaan menjadi sebuah mekanisme untuk memperoleh jalan keluar setiap permasalahan secara damai. Upaya memelihara perdamaian di Papua bisa dilakukan melalui mekanisme yang telah mereka bangun sendiri dalam bentuk pertemuan antar suku. Sebuah pertemuan yang mampu menyelesaikan konflik sekaligus sebagai pemelihara perdamaian dan menumbuhkan solidaritas diantara mereka.

Contohnya: masyarakat di pegunungan Tengah yang melakukan upacara “Bakar Batu”. Tradisi ini digelar saat terjadi peperangan atau konflik antara suku. Upacara Bakar Batu mengandung filosofi tentang makna kehidupan, tentang kesederhanaan, ucapan rasa syukur, dan yang paling utama adalah perdamaian. Perdamaian di sini bukan berarti tanpa perselisihan atau peperangan, akan tetapi lebih kepada usaha mencari solusi pemecahan masalah. Karena mereka sadar bahwa peperangan mengakibatkan kerugian secara materi dan moral yang sangat besar, serta berdampak buruk bagi kelangsungan hidup bagi mereka sendiri serta anak cucunya.

Di beberapa daerah, upacara Bakar Batu telah mengalami kontekstualisasi. Dimana hewan yang dipakai sebagai hidangan tidak lagi harus babi, tetapi bisa berupa ayam atau daging selain babi. Ini menunjukkan bahwa ada rasa toleransi sekaligus untuk mengakomodasi kehadiran penduduk lain yang berbeda agama. Contohnya di Wamena yang masyarakatnya ada yang beragama Kristen, Katolik, Islam, Hindu, dan Budha. Sebuah bukti nyata bahwa, tradisi Bakar Batu bukan hanya sebagai prosesi ritual saja, namun selain sebagai mediasi toleransi, dan perdamaian, juga sebagai media untuk membangun kesepakatan-kesepakatan kultural sebagai perwujudan perdamaian diantara mereka.

Tradisi lain yang dipakai sebagai mekanisme penyelesaian konflik, atau perang di antara mereka adalah dengan Para-para Adat. Yaitu berupa rumah atau bangunan yang dijadikan sebagai tempat acara sakral untuk menyelesaikan masalah antar suku.

Disamping Para-para Adat, ada pula Tikar Adat yang dipakai untuk memfasilitasi antar anggota suku atau adat. Biasanya jika ada permasalahan dalam keluarga, maka orang tua akan mengajak warganya untuk menyelesaikannya di atas tikar. Selain menyelesaikan masalah keseharian, juga digunakan sebagai ajang warga adat yang ingin mengeluarkan aspirasinya. Seperti halnya dengan para-para adat, di atas Tikar Adat ini permasalahan yang ada diselesaikan secara damai.

Sebagai alternatif lain dalam penyelesaian konflik, kearifan lokal memiliki kemungkinan lebih efektif dan produktif dibandingkan pendekatan lainnya. Pertimbangannya adalah: bahwa kearifan lokal merupakan bagian dari sejarah kehidupan yang telah diyakini masyarakat di sana. Dimana kearifan lokal telah menjadi konsep dalam hidup dan terus diabadikan dengan mengikuti zaman. Menjadi elemen penting yang mampu menguatkan kohesi sosial antar warga masyarakat yang mampu menyelesaikan konflik sekaligus menciptakan perdamaian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s